“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.


sinopsis-novel-pulang-tere-liye

Judul Buku : Pulang

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Tebal : x + 400 hal

Terbit : Cetakan I (September 2015)

Menceritakan tentang kisah Bujang, bocah 15 tahun yang tinggal di suatu kampung; talang. Bapaknya; Samad adalah mantan tukang pukul, yang berhenti saat usianya 30 tahun karena ingin pulang ke kampung halamannya, dan melamar kembali belahan jiwanya; Midah. Midah keturunan dari keluarga islami, Ayahnya merupakan pimpinan kampung, Tuanku Imam. Sebelumnya, Samad telah mencoba melamar Midah, namun ditolak mentah-mentah, mengingat Ayah Samad merupakan tukang jagal, yang dijuluki Si Mata Merah. Diusir dari kampung, Samad akhirnya bergabung dengan sekelompok tukang jagal di Keluarga Tong.

Suatu hari, Samad kedatangan tamu dari kota, 12 orang yang membawa senapan. Pimpinannya, bernama Tauke Muda, terlihat akrab sekali dengan Samad. Katanya, mereka akan membantu memberantas babi hutan yang belakangan ini telah mengganggu kegiatan pertanian kampung talang. Mereka akan memasuki hutan bersama beberapa orang kampung lainnya. Bujang pun diminta ikut, dan diperbolehkan dengan 1 pesan dari ibunya; dia tidak boleh menyerang, hanya boleh menonton para pemburu lain memburu. Akhirnya mereka masuk ke hutan dan berpencar menjadi 3 kelompok. Bujang ikut kelompok bersama Tauke Muda dan para pemburu lainnya.

Di sana, mereka menyerang banyak sekali babi hutan. Saat memasuki jantung hutan, permasalahan muncul. Ada 4 babi besar, berukuran kurang lebih 250 kilogram, menyerang buas para pemburu. Mereka kewalahan, terluka di mana-mana. Kecuali Bujang, karena dia dilindungi oleh Tauke Muda. Namun, masalah belum selesai. Muncul satu babi raksasa, berukuran tidak kurang dari 500 kilogram, terlihat sangat marah dan siap menyerang mereka kapan saja. Babi tersebut menyerang Tauke Muda, menyebabkan ia terlempar 2 meter. Satu-satunya mangsa yang masih utuh hanya Bujang, dan babi itu telah siap menyerang. Saat itu, Bujang pun telah bersiap. Melupakan pesan dari Ibunya, dan menyerang dengan tombak yang dibawanya. Malam itu, Bujang telah mengalahkan seekor babi raksasa seorang diri. Walaupun pulang dengan banyak luka di sekujur tubuh, namun semenjak kejadian itu, Bujang tidak pernah merasa takut, seolah-olah rasa takut itu telah dihapus dan dikeluarkan dari dirinya.

Akhirnya Tauke Muda pun meminta Bujang untuk ikut ke kota bersamanya. Di sana, dia berkenalan dengan banyak orang, belajar hingga ke perguruan tinggi, bergabung dan menjadi bagian penting dalam Keluarga Tong hingga 20 tahun ke depan. Dia tumbuh besar dan dewasa, pintar nan cerdik. Dia tumbuh sebagai tukang jagal nomor satu. Bisikkan namanya di telinga mereka, maka orang-orang akan gemetar ketakutan. Suruh dia bicara, bahkan seorang presiden pun akan terdiam mendengarkan. Orang-orang memanggilnya, Si Babi Hutan.

“Saat itu terjadi, kau telah pulang, Bujang. Pulang pada hakikat kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan”.


Kisah yang berbeda, diceritakan dengan POV 1 dan alur maju-mundur. Dipenuhi berbagai konflik menegangkan, dan sentuhan sensitif mengenai orang tua, jabatan, hubungan kekerabatan, serta pemahaman diri. Cover buku warna hijau yang sederhana namun indah, di tengahnya terdapat robekan yang berisi matahari terbit. Di judul tulisan “Pulang” terdapat sabetan pedang yang merupakan salah satu keahlian Bujang. Banyak pesan moral dan ilmu pengetahuan yang bisa kita dapat dari buku ini. Tokohnya pun tidak ada yang terbuang sia-sia, semua nama yang disebutkan mempunyai peran tersendiri, diantaranya; Tauke Besar, Kopong, Frans, Yuki dan Kiko, White, Parwez, Basyir, dan lain-lain. Penggunaan bahasanya pun mudah dimengerti. Salah satu karya Tere Liye yang saya golongkan ‘terfavorit’. 5 bintang!

Advertisements